Selasa, 24 November 2020

,
Sumber: workshop HGN dan HUT PGRI 2020 Prov. Bali Minggu, 22/11/20 

Selasa, 24 November 2020 | Toad Isbani

Prof. Dr. unifah Rosyidi, M.Pd pada penyampaiannya dalam workshop Webinar dalam rangka Hari Guru Nasional dan HUT PGRI Tahun 2020, PGRI Provinsi Bali pertemuan pertama sesi-2 hari Minggu 22 November 2020,  menyatakan dari PGRI Untuk Indonesia Menolak Menyerah Karena Covid-19 “kreativitas dan Dedikasi Guru Menuju Indonesia Maju”.  Pernyataan PGRI tentang Guru Kreatif Berdedikasi : Kami menghendaki pendidikan yang membentuk karakter, menyuburkan jiwa meluaskan intelek yang dengan itu, seseorang dapat berdiri di atas kakinya sendiri – sebagai kompetensinya

Apa kompetensi guru saat ini adalah membentuk dan mendorong siswa untuk berdiri atas kakinya sendiri dan mencintai pelajaran.

Guru berhenti belajar, maka berhenti menjadi guru.

Kebutuhan Belajar : 1) Belajar sepanjang hayat (life long learning) dan tidak hanya mencari sertifikat; 2) Belajar tanpa batas (borderfess learning); 3) Belajar sebagai hakekat manusia (nature of learning); 4) Belajar melalui berbagai cara (free style learning); 5) Belajar sebagai kebutuhan (contextual learning); 6) Belajar secara bebas (freedom of learning)

Perkembangan yang perlu dilaksanakan adalah Education 4.0, harus berubah dan meninggalkan education 1.0 - 3.0 menuju Empowering education to produce innovation

- Education 1.0 : centuries of experience with memorization

- Education 2.0 : Internet-enabled learning

- Education 3.0 : Consuming & Producing knowledge

- Education 4.0 : Empowering education to produce innovation

Maka mutu pendidikan didapatkan jika guru diberi kepercayaan dan tidak hanya administratif.


                                                           Sumber: Materi Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd (workshop HGN dan PGRI 2020 Prov. Bali)

Pandemi adalah Momentum: a) Pandemi merupakan momentum untuk melakukan hal-hal besar dan mendasar; b) Setelah pandemi berlalu sekedar menormalkan praksis belajar tidak cukup, yang diperlukan adalah disain besar untuk mengubah sistem pendidikan secara mendasar, kurikulum sekolah baik konten maupun sistem pembelajaran dan evaluasinya; c) Mengubah tradisi, budaya hidup sehat di sekolah maupun di rumah sekaligus melakukan berbagai upaya agar siswa bisa sekolah kembali.

#Day21NovAISEIWritingChallenge

,
Sumber: workshop HGN dan HUT PGRI 2020 Prov. Bali Minggu, 22/11/20 

Selasa, 24 November 2020 | Toad Isbani

Dr. Iwan Syahril, Ph.D menyampaikan dalam Workshop Webinar PGRI Provinsi Bali dalam rangka Hari Guru dan PGRI Tahun 2020 tanggal 22 – 26 November 2020, di hari pertama Minggu 22 November 2020, bahwa Logo bertulisan Tut Wuri Handayani, ini merupakan semboyan dari bapak pendidikan kita (Ki Hajar Dewantara) : Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani bahwa kita sebagai seorang guru harusah menjadi seorang teladan, yang membangkitkan semangat dan mendorong menuju kemandirian. Artinya di depan memberikan teladan, di tengah membangkitkan motivasi atau semangat dan di belakang memberikan dorongan. Tapi tiga kata kunci di sini adalah TELADAN, MOTIVATOR dan PEMBERDAYA. Guru mendidik anak muridnya dengan teladan dan membangkitkan semangat sehingga pada akhirnya tut wuri handayani adalah sebuah proses visi cita-cita yang ingin kita hadirkan bahwa anak-anak kita adalah manusia yang berdaya, manusia-manusia yang mandiri atau dalam arti kata lain manusia yang merdeka. Sistem pendidikan kita diarahkan untuk membentuk manusia-manusia yang mandiri, yang berdaya atau yang merdeka.

Sumber: Materi Dr. Iwan Syahril, Ph.D (workshop HGN dan PGRI 2020 Prov. Bali)

Ki Hajar berkata bahwa pendidikan itu hanya bisa menuntun faedahnya bagi tumbuh anak sangatlah besar. Pendidik itu ibaratnya petani, Seorang petani yang menanam padi hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat dan jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi, dan lain sebagainya. Meskipun pertumbuhan tanaman padi dapat diperbaiki tetapi Ia tidak dapat mengganti kodrat iradatnya padi. Misalnya, Ia tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu, tumbuh sebagai jagung. Memang benar, Ia dapat memperbaiki keadaan tanaman padi yang ditanam, bahkan Ia dapat juga menghasilkan tanaman padi itu lebih besar daripada tanaman padi yang tidak dipelihara, tetapi mengganti kodratnya padi itu mustahil. Jadi anak-anak didik kita ibaratnya bibit, dan guru ibaratnya petani, jika bibit-bibit itu adalah padi, maka tumbuhkanlah dia sebagai padi, kalau dia jagung maka tumbuhkanlah dia sebagai jagung. Jadikanlah dia padi yang terbaik, jadikanlah dia jagung yang terbaik. Jangan menumbuhkan padi berharap itu akan menjadi jagung.

Kerangka Utama Filosofi Ki Hajar Dewantara

Kodrat Keadaan

Kodrat Alam (sifat, bentuk)

Sifat pokok tiap-tiap kebudayaan adalah universal (kemanusiaan)

Bentuk kebudayaan berbeda-beda sesuai kodrat alam

Kodrat zaman (isi, irama)

Isi kebudayaan timbul karena pengaruh zaman yang ditempati masyarakat

Irama kebudayaan adalah cara menggunakan segala unsur kebudayaan

Visi kemendikbud 2020-2024

Kementerian pendidikan dan kebudayaan mendukung visi dan misi preseden untuk mewujudkan indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kretif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bergotong-royong dan berkebinekaan global.

#Day20NovAISEIWritingChallenge

Senin, 23 November 2020

,

Senin, 23 November 2020 | oleh: Toad Isbani 

malam berujung dalam kelam berlalu

alam kelu penghias sendu

tak tentu mencekam pilu

tergerak asa menggilas waktu

kerlip bintang penghias langit biru

hanya guruku yang selalu kurindu

kobaran jiwa tempatku mengadu

tatkala semua tak peduli akan aku

Kau ada ohh guruku

Kaulah sang penentu

 

suasana ceria menjelang pagi

bersamamu aku setiap hari

ajarkanku sebuah arti

yang belum ku mengerti

penuh cinta dalam hati

tak akan pernah kupungkiri

Engkaulah guruku sejati

yang tak akan mati

dalam kalbu dan nurani

hidup sampai nanti

perjuanganmu takkan terhenti

melekat dan menjiwai

pada semua ingsan duniawi

dan bukan hanya sebagai mimpi

 

tak jemu walau duka mendera

tak patah ketika hardikan hina

selalu menyapa penuh ceria

terbalut kasih dan cinta

membuka wawasan cakrawala

membentangkan asa di ujung benua

menghapus duka dan lara

guru yang akan selalu kupuja

dengan untaian kata doa

padamu Allah semata

melekat dalam dada

bahagia tiada terkira

abadi kekal selamanya

 

#Day19NovAISEIWritingChallenge

Sabtu, 21 November 2020

,

Disampaikan pada Seminar dan Webinar Direktorat pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga kependidikan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Republik Indonesia, Kamis 19 November 2020, di Swiss-Bell Hotel, bahwa adanya tren baru, yakni Pendidikan untuk semua :

1. Deklarasi Internasional tentang Hak Azasi Manusia 1948; 2. Deklarasi Internasional tentang Hak Penyandang Disabilitas 1975; 3. Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989; 4. Konferensi Jomtien Thailand Tahun 1990 "Education for All"; 5. Konferensi Dunia Salamanca Spanyol 1994; 6. Konferensi Pendidikan Dunia di Dakar Sinegal 2000; 7. Konvensi PBB tentang Hak Penyandang Disabilitas, tanggal 13 Desember 2006

Tren Pendidikan di AS: 1) Tren Penambahan ABK: 1976 dan 2004 jml ABK di AS meningkat dari 3.7 jt menjadi 6.6 jt (8% menjadi 14%); 2) Tahun 2007-2008 terdapat 13% ABK dari total siswa yang mendaftar ke sekolah negeri; 3) Pusat statistik 96% guru umum punya siswa disabilitas 3-4 anak dengan IEP terintegrasi; 4) Sekitar 95% ABK dilayani di sekolah umum. (Sumber: Aud et al, 2010).

Indonesia memulai untuk menuju pendidikan inklusif dapat digambarkan melalui tiga hal yakni Historis, Regulasi dan Implementasi. Seperti terungkap pada data Pusdatin Kemenkes: jumlah penyandang disabilitas saat ini mencapai 11,580,117 orang, di antaranya 3,474,035 (penyandang disabilitas penglihatan), 3,010,830 (penyandang disabilitas fisik), 2,547,626 (penyandang disabilitas pendengaran), 1,389,614 (penyandang disabilitas mental) dan 1,158,012 (penyandang disabilitas kronis). Sedangkan data pada WHO menyebutkan di Indonesia terdapat sekitar 24 juta orang yang tergolong disabilitas, termasuk orangtua, disabilitas mental dan intelektual.

Ragam disabilitas menurut UU No. 8 tahun 2016, Penyandang disabilitas meliputi: penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas intelektual, penyandang disabilitas mental, dan/atau penyandang disabilitas sensorik dan disabilitas ganda/majemuk.





Menurut Prof. Dr. Munawir yusuf, M.Psi, bahwa dengan menganalisis regulasi standar pendidikan tersebut maka perlunya paradigma baru kompetensi guru, yakni: 
1. Kompetensi Pedagogik (termasuk pedagogik untuk siswa berkebutuhan khusus)
2. Kompetensi Kepribadian (termasuk menerima keberagaman peserta didik)
3. Kompetensi Sosial (memahami kebutuhan sosial siswa berkebutuhan khsusu)
4. Kompetensi Profesional (menguasai prinsip dan teori dasar dalam bidang ilmu yang diperlukan
    dalam pemenuhan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus)
Peran Oraganisasi Profesi Guru : 
1. Perlunya sinergi (Inklusi) antar Organisasi Profesi Guru
2. Ke depan semua sekolah harus siap menjadi sekolah penyelenggara pendidikan inklusi.
    Terkait UU dan Kebijakan merdeka belajar dan sistem zonasi
3. Semua program pemerintah yang menyangkut penyiapan Calon Guru, Pembinaan Profesi Guru, 
    Pembinaan profesi Tenaga Kependidikan (misal Kep. Sekolah dan Pengawas), Widyaiswara,
    Instruktur, dll perlu memasukkan Materi Pendidikan Inklusif.
4. Organisasi Profesi Guru perlu mengembangkan paket-paket pelatihan pembinaan kompetensi 
    pendidikan inklusi bagi guru di semua jejang pendidikan.
5. Perlu dikembangkan Index Sekolah Inklusi sebagai parameter sekolah penyelenggara pendidikan
    inklusi yang nantinya dapat menjadi indikator untuk menyusun instrumen akreditasi sekolah inklusi

Metode Pengembangan Profesi Guru
1. Membaca referensi (buku dan artikel)
2. Mengikuti workshop, lokakarya/pelatihan/seminar/dll
3. Mengikuti kursus singkat (short course)
4. Studi lanjut (S2 dan S3)
5. Terlibat dalam focus group discussion
6. Mengamati teman mengajar atau sebaliknya
7. Mengajar dalam team (team teaching)
8. Minta guru "senior" sebagai mentor
9. Melakukan pengajaran reflektif
10. Melakukan penelitian tindakan (kelas)
11. Menulis buku dan artikel jurnal ilmiah, dll

#Day18NovAISEIWritingChallenge

Jumat, 20 November 2020

,
Sumber: Seminar Dukungan Organisasi Profesi Guru bagi Peningkatan Profesionalisme Guru

5 strategi pembelajaran holistik Kementerian pendidikan dan Kebudayaan, yakni: 1) Transformasi kepemimpinan sekolah, 2) Transformasi pendidikan dan pelatihan guru, 3) Mengajar sesuai tingkat kemampuan siswa, 4) Standar penilaian global, 5) Kemitraan daerah dan masyarakat sipil. Selanjutnya adalah tentang merdeka belajar yang disampaikan untuk pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia dengan memberikan pengaruh dan dukungan sepenuhnya.

Kerangka Utama Transformasi GTK:

1. Tujuan Kemendikbud adalah “Murid” merupakan profil Pelajar Pancasila

2. Strategi Utama Kemendikbud adalah menjadikan sekolah penggerak (wadah) dalam mewujudkan tujuan tersebut

3. Program-program Utama Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan untuk mewujudkan tujuannya di antaranya: a) Transformasi Kepemimpinan Pendidikan; b) Transformasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pra Jabatan; c) Pengembangan ekosisitem belajar guru di setiap propinsi; d) Pemberdayaan pendidikan (gotong-royong); dan e) Revisi regulasi dan tata kelola Sumber Daya Manusia (SDM) GTK.

4. Program terkaitnya adalah kebijakan, teknologi, asesmen dan kurikulum
Model Kompetensi Kepala Sekolah:
reklasifikasi dan peringkasan 33 aspek kompetensi yang yang selama ini telah digunakan dalam permendiknas no. 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, adalah:
Kategori Mengembangkan diri dan orang lain:
1. Menunjukkan kebiasaan untuk pengembangan diri secara mandiri (self regulated learning)
2. Mengembangkan kompetensi warga sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar murid (facilitoring, coaching, mentoring)
3. Berpartisipasi aktif dalam organisasi profesi kepemimpinan sekolah dan komunias lain untuk pengembangan karier
4. Menunjukkan kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik (integrity)
Kategori Memimpin Pembelajaran:
1. memimpin upaya membangun lingkungan belajar yang berpusat pada murid
2. memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid
3. memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid
4. melibatkan orangtua sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah
Kategori Memimpin Manajemen Sekolah:
1. memimpin upaya mewujudkan visi sekolah menjadi budaya belajar yang berpihak pada murid
2. memimpin dan mengelola program sekolah yang berdampak pada murid
Kategori Memimpin Pengembangan Sekolah:
1. memimpin pengembangan sekolah untuk mengoptimalkan proses belajar murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas sekitar sekolah
2. melibatkan orangtua dan komunitas dalam pembiayaan dan pengembangan sekolah

Model Kompetensi Guru
1. Penguasaan Pengetahuan Profesional
    - menganalisis struktur dan alur pengetahuan untuk pembelajaran
    - menjabarkan tahap penguasaan kompetensi murid
    - menetapkan tujuan belajar sesuai kurikulum, perkembangan murid dan profil pelajar
      Indonesia
2. Praktik Pembelajaran Profesional
    - mengembangkan lingkungan kelas yang memfasilitasi murid belajar secara aman
      dan nyaman
    - mendesain, memandu dan merefleksikan proses belajar mengajar yang efektif
    - melakukan asesmen, menyediakan umpan balik dan laporan belajar
    - melibatkan orangtua murid dan komunitas dalam proses belajar
3. Pengembangan Profesi Berkelanjutan
    - menunjukkan kebiasaan refleksi untuk pengembangan diri secara mandiri
      (self regulated learning)
    - menunjukkkan kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode
      etik
    - menunjukkan praktik dan kebiasaan bekerja yang berorientasi pada anak (working
      with children)
    - melakukan gotong-royong pengembangan bersama dan bagi orang lain untuk
      menumbuhkan nilai-nilai Pancasila (developing others)
    - mengembangkan karier melalui partisipasi aktif dalam organisasi profesi guru



Kamis, 19 November 2020

,

Kamis, 19 November 2020 | oleh: Toad Isbani

Setiap hari tak terlewatkan selalu mencoba untuk membuka WhatsApp, waktu itu tepatnya hari Senin 16 November 2020 pukul 20:28 WIB saya mendapat pesan suara dari Bp. Tri Budiharjo (pengurus dan pejuang KOGTIK) waktu masih aktif sebagai guru di SMPN 22 Surakarta. Pesan suara itu tentang penugasan untuk hadir mewakil KOGTIK (Komunitas Guru TIK) Solo Raya pada kegiatan Seminar dengan tema “Dukungan Organisasi Profesi Guru bagi Peningkatan Profesionalisme Guru” hari Kamis, 19 November 2020 di Swiss-Bell Hotel Solo. Jl. A. Yani, Gilingan Kec. Banjarsari Kota Surakarta Jawa Tengah 57134. Selang beberapa waktu sekitar pukul 21:34 WIB, Om Jay juga mengirim pesan bahwa ada undangan untuk menghadiri kegiatan seminar itu, dan terlampir surat udangan dan juga kontak narahubung. Saya sempat menolak karena kesibukan di kantor yang sedang melaksanakan Uji Coba Tahap I Kelompok 2 Pertemuan Tatap Muka dan juga bersamaan dengan acara lain pada hari Selasa dan Rabu, yang tidak memungkinkan untuk mengikuti acara tersebut karena mepetnya persiapan untuk syarat mengikuti kegiatan tersebut. Dan beberapa menit kemudian mendapat pesan dari Om Jay, bahwa pak Bambang S., Ketua KOGTIK sudah menugaskan Bu Endang Wuryanti dan bersedia untuk hadir.

Pada hari Rabu, 18 November 2020, mendapat pesan dari bu Ismi untuk ikutan hadir seminar tersebut sebagai anggota dari AISEI (Association for International School Educators Indonesia) dengan Founder Dr. Capri Anjaya, S.Pd., M.Hum. Awalnya bingung, tetapi setelah dipikir akhirnya memutuskan untuk bersedia hadir menjawab ajakan dan penugasan dari AISEI.


Ternyata penugasan dari AISEI yang diawali ajakan dari bu Ismi, adalah suatu takdir yang mempertemukan guru saya waktu masih duduk di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu beliau Bapak Tri Widodo (guru kesenian saya waktu SMP). Tidak hanya itu, penugasan untuk menghadiri kegiatan seminar itu juga mempertemukan saya dengan teman kuliah saya yang sekaligus teman guru saya yakni Mas Sutrisno. Ternyata kegiatan seminar ini tidak hanya menjalin silaturrahmi, tambah wawasan dan keilmuan juga ketemu dengan orang-orang hebat yang berprofesi sebagai guru di wilayah Solo/Jogja. Terimakasih Om Jay, Aki 3 (KOGTIK), terimakasih juga Bu Capri, Bu Ismi juga AISEI.

Kegiatan seminar yang di moderatori oleh Dr. Capri Anjaya, S.Pd., M.Pd dengan Paparan materi yang disampaikan oleh para Narasumber, yang pertama adalah:

Bapak Dr. Praptono, dengan materi di antaranya tentang Kebijakan Kemendikbud Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru, yakni: 5 strategi pembelajaran holistik Kementerian pendidikan dan Kebudayaan, 1) Transformasi kepemimpinan sekolah, 2) Transformasi pendidikan dan pelatihan guru, 3) Mengajar sesuai tingkat kemampuan siswa, 4) Standar penilaian global, 5) Kemitraan daerah dan masyarakat sipil. Selanjutnya adalah tentang merdeka belajar yang disampaikan untuk pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia dengan memberikan pengaruh dan dukungan sepenuhnya. Materi berikutnya pada kegiatan seminar klik di sini

#Day16NovAISEIWritingChallenge 

Rabu, 18 November 2020

,

Sumber: Photo Profil WA Bu Sri Sugiastuti


Rabu, 18 November 2020 |oleh: Toad Isbani

pagi ini ku kabarkan whatsAppku

kubuka semua grup nulisku

ada doa tertulis lekas sembuh dan sehat selalu

aku juga mencoba untuk mencari tahu

walau dalam hati bilang semoga sehat selalu

 

ya Allah sembuhkan Bundaku

Beliau yang selalu membimbingku

tanpanya, aku hanyalah debu

yang lekas berlalu tanpa ada tanda buku

sekarang aku bisa menulis itu

semua karena bimbingan Bunda Astutiku

lekaslah sembuh dan bersamaku

juga bersama temanku

walau tak teriringi sebuah lagu

tetaplah doaku dan semua untukmu

Bunda tercintaku


siang kias hilang berganti

tak ada yang dapat ditutupi

mentari bersenar berseri

mencari pujaan yang dihati

membimbing menulis dengan naluri

sayap mengembang menabur mimpi

walau sehari tak kunjung terasa terhenti

nasehatmu penuh ungkapan janji

membawa jauh menelusuri

mimpi yang kian nyata terjadi

Bunda Sri Sugiastuti, ........

cintamu untukku dan bumi pertiwi

dalam kitab pahatkan jati diri

semoga sehat selalu dalam lindungan  Illahi

aamiin .... aamiin .... aamiin ya Allah

 

#Day15NovAISEIWritingChallenge

Follow Us @soratemplates