Jum’at, 21 Agustus 2026 | oleh:
Toad Isbani
Kegiatan belajar mengajar tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Salah satu contohnya terjadi ketika jaringan listrik di kelas 9 mengalami mati listrik. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa fasilitas pembelajaran, seperti lampu, kipas angin, proyektor, dan perangkat digital tidak dapat digunakan. Namun, keadaan itu bukan alasan bagi siswa untuk berhenti belajar. Demi menjaga kegiatan pembelajaran tetap berlangsung, murid kelas 9 Sains dipindahkan ke ruangan lain yang memiliki kondisi lebih mendukung, yakni kelas 7C, yang sudah kosong karena muridnya pulang jam 13.50 WIB. Sedangkan untuk kelas Sains pulang paling akhir yakni jam 15.20 WIB.
Perpindahan kelas tersebut menunjukkan bahwa semangat belajar harus tetap dijaga dalam berbagai keadaan. Guru dan murid bekerja sama agar proses pembelajaran tidak terhenti hanya karena adanya kendala teknis. Dengan berpindah ke ruangan yang lebih nyaman, murid dapat kembali berkonsentrasi dan mengikuti materi dengan baik. Sikap seperti ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi juga oleh kemauan untuk berusaha dan mencari solusi.
Di
era digital, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu keterampilan penting.
Teknologi memang dapat membantu proses belajar, tetapi siswa tidak boleh
sepenuhnya bergantung pada teknologi. Ketika listrik atau jaringan mengalami
gangguan, kegiatan belajar masih dapat dilakukan melalui buku, diskusi,
catatan, maupun kerja kelompok. Dengan demikian, siswa belajar menjadi pribadi
yang kreatif, mandiri, dan mampu menghadapi perubahan.
Peristiwa
ini juga memberikan pelajaran tentang pentingnya memanfaatkan teknologi secara
bijak. Ketika fasilitas digital tersedia, murid dapat menggunakannya untuk
mencari informasi, mengembangkan keterampilan, dan memperluas wawasan. Namun,
ketika fasilitas tersebut tidak tersedia, murid tetap dapat belajar dengan cara
lain. Kemampuan mengombinasikan teknologi dengan metode pembelajaran sederhana
akan membuat murid lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Menjadi
generasi yang sukses dan berilmu digital bukan berarti harus selalu berada
dalam kondisi sempurna. Justru, tantangan dapat menjadi kesempatan untuk
melatih ketangguhan, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Pengalaman
pindah kelas karena listrik mati mengajarkan bahwa proses belajar harus terus
berjalan. Murid perlu memiliki semangat untuk mencari pengetahuan dari berbagai
sumber dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan.
Pada
akhirnya, kejadian jaringan listrik mati di kelas 9 Sains bukanlah penghalang
untuk meraih ilmu. Perpindahan kelas menjadi bukti bahwa pembelajaran dapat
berlangsung selama ada kemauan, kerja sama, dan kreativitas. Dengan semangat
tersebut, murid dapat tumbuh menjadi generasi yang berilmu, adaptif, melek
digital, dan terdepan dalam menghadapi perkembangan zaman. Kesuksesan dapat
diraih oleh mereka yang terus belajar, berani beradaptasi, dan menjadikan
setiap kendala sebagai pengalaman berharga.
Sekian dulu tulisan saya untuk hari ini, semoga ada manfaat untuk para pembaca semua. Tetap harus belajar dan semangat dalam berkembang. Membiasakan untuk menulis dan diposting ke BLOG minimal 150 kata setiap hari. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin. Salam SEDULUR.
Silahkah diuprek Blog Toad Isbani di URL : https://toadisbanimtsn1solo.blogspot.com/ Untuk lebih mengetahui tentang penulis blog klik di Profile Toad Isbani.
#Pendidikan,#Toad Isbani,#LiterasiDigital,#MenulisSetiapHari,#Literasi,#Perjuangan,#Berkarya,#informatika
mtsnska1,#Wijayalabs.com,#Perjuangan,#Toad
Isbani,#eventmenulissetiaphari,#lombablogomjay
.jpeg)

