Untuk bergabung dengan AISEI dapat diklik pada URL: https://www.aisei.id/
Jum’at, 08 Januari
2021 |
oleh: Toad Isbani
Sedulur merupakan bahasa Jawa yang berarti saudara atau masih ada ikatan keluarga.
Selain mempunyai maksud menjadikan peserta didik sebagaimana keluarga, maka akan
terjalin hubungan yang erat. Dengan menerapkan dan memaknai sedulur tentunya akan membawa dampak
positif dalam proses pembelajaran. Kita sebagai pendidik (guru) hendaknya menjadikan
siswa atau peserta didik sebagai sedulur atau memperlakukan sebagai bagian dari
keluarga.
Kenapa saya mengambil kata sedulur?
Dan kenapa tidak menjadikan peserta didik sebagai anak kita?
Bukankah memang peserta didik adalah anak angkat dari guru?
Jawabnya adalah jika kita sebagai guru menganggap peserta didik adalah anak
kita, maka perlakuan kita terhadap peserta didik terkesan memanjakannya. Bapak
Ibu semua pastilah tahu bagaimana jika anak kita berbuat salah? Alasan itulah,
maka saya memilih kata sedulur dalam
menganggap peserta didik. Selain makna sedulur sangat erat kaitannya dengan
keluarga, sedulur dapat dijadikan
strategi guru dalam upaya mencerdaskan generasi.
Menurut saya, SEDULUR dapat diartikan sebagai berikut:
1. Semangat
Guru harus selalu semangat, dengan selalu
bersemangat akan menjadikan peserta didik yang semangat pula. Guru jangan
lembek seenaknya sendiri dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Guru yang
semangat akan dicontoh peserta didiknya.
2. Empati
Dimaksudkan bahwa guru harus empati terhadap
peserta didik, karena memang merupakan bagian dari keluarga kita. Seseorang
tidaklah dapat dikatakan sebagai guru jika tidak ada peserta didiknya.
3. Disiplin
Guru harus selalu disiplin dalam berbagai hal. Terlebih
lagi terkait dengan waktu, guru harus datang tepat waktu sesuai dengan jadwal.
4. Umum
Maksudnya adalah bahwa guru hendaknya berperilaku
secara umum dan mengikuti aturan yang diberlakukan dalam madrasah/sekolah
tempat bekerja. Pun juga dapat meperlakukan peserta didik secara umum tidak
membeda-bedakan.
5. Loyal
Guru haruslah loyal terhadap peserta didiknya.
Loyal disini dalam hal mentransfer ilmu hendaknya tidak tebang pilih. Haruslah
merata dalam mendidik, membimbing, mengarahkan, mengajar dan juga mentransfer
ilmu yang dimilikinya kepada peserta didik. Bahkan jika ada peserta didik yang
memang berprestasi hendaknya memberikan pujian ataupun hadiah untuk
meningkatkan motivasi belajarnya, dan ketika ada peserta didik yang kurang
dapat memahami materi hendaknya diberikan tambahan waktu untuk belajar.
6. Ulet
Guru harus ulet dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Guru tidak boleh gampang putus asa dalam menghadapi peserta didik
yang berasal dari berbagai latar belakang keluarga dan mempunyai karakter yang
berbeda-beda.
7. Ramah
Guru hendaknya selalu bersikap ramah. Ramah
terhadap peserta didik, kepada guru lain dan kepada siapapun. Guru tidak boleh menunjukkan
sikap yang cemberut apalagi temperamen terhadap peserta didiknya.
Semoga kita menjadi guru yang SEDULUR, sehingga mampu membawa generasi emas Indonesia yang tangguh dan berakhlak mulia. Aamiin.